Mewujudkan Generasi Berkarakter Islami dan Unggul serta Madrasah Bersih, Sehat, dan Asri
(Berkilau & Berseri)
PERTEMUAN KE-34
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:- Menghargai keshalihan Ali bin Abi Thalib.
- Menjalankan sikap peduli kepada keluarga, teman, dan guru.
- Menganalisis kisah teladan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat dan khalifah.
- Mengidentifikasi keteladanan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat dan khalifah.
MATERI
C. Beberapa Pemberontakan pada Masa Ali bin Abi Thalib
Terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan menimbulkan permasalahan besar bagi Ali bin Abi Thalib. Banyak pihak, terutama dari kalangan keluarga Usman, menuntut agar para pelaku pembunuhan segera ditemukan dan dihukum. Namun, situasi politik saat itu sangat kacau, sehingga penyelidikan dan penegakan hukum tidak mudah dilakukan. Ketika Ali bin Abi Thalib belum mampu memenuhi tuntutan tersebut, sebagian orang menuduhnya terlibat dalam pembunuhan Usman bin Affan. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya berbagai pemberontakan pada masa pemerintahannya.
1. Pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah (36 H/656 M)Pemberontakan pertama pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib dipimpin oleh tiga tokoh besar, yaitu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Aisyah r.a. Mereka menuntut agar para pembunuh Usman bin Affan segera dihukum.
Thalhah adalah sahabat senior Nabi Muhammad saw. yang sangat dihormati dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Abu Bakar as-Siddiq. Sementara itu, Zubair bin Awwam juga merupakan sahabat dekat Nabi, kerabat Usman bin Affan, serta menantu Abu Bakar as-Siddiq karena menikahi Asma' binti Abu Bakar.
Pada awalnya, baik Thalhah maupun Zubair telah membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Namun, ketika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, keduanya menarik kembali baiat tersebut dan berangkat ke Basra untuk menggalang kekuatan. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Aisyah r.a., istri Rasulullah saw., yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah. Setelah mendengar kabar tentang terbunuhnya Usman bin Affan dan bahwa Ali belum menghukum pelaku-pelakunya, Aisyah merasa sangat terpukul. Ia pun bergabung dengan Thalhah dan Zubair untuk menuntut keadilan.
Sesampainya di Basra, mereka berhasil merebut kekuasaan dan menawan gubernur Basra yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu Usman bin Hanif. Situasi pun menjadi semakin tegang. Ali bin Abi Thalib berusaha menyelesaikan konflik ini dengan cara damai. Ia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair untuk mengajak mereka berunding, namun ajakan tersebut tidak dihiraukan. Akibatnya, pertempuran besar pun tak dapat dihindari.
Dalam pertempuran itu, Aisyah menaiki seekor unta untuk memimpin pasukannya, sehingga perang tersebut dikenal dalam sejarah sebagai Perang Jamal atau Perang Unta. Dengan strategi perang yang cerdas dan keberanian luar biasa, Ali bin Abi Thalib berhasil memenangkan pertempuran. Thalhah dan Zubair gugur di medan perang, sementara sekitar dua puluh ribu kaum muslimin lainnya juga syahid.
Ali memperlakukan Aisyah dengan penuh hormat dan mengantarkannya kembali ke Madinah dengan pengawalan saudara kandungnya, Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq. Setelah peristiwa itu, Basra resmi berada di bawah kendali pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Tidak lama kemudian, beliau memusatkan perhatian untuk menghadapi pemberontakan baru yang dipimpin oleh Mu'awiyah bin Abu Sofyan.
2. Pemberontakan Mu'awiyah bin Abu SofyanMu'awiyah bin Abu Sofyan, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam, menolak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ia menuduh Ali bersekongkol dengan para pemberontak yang membunuh Usman bin Affan. Karena itu, Mu'awiyah menuntut agar Ali segera menghukum para pelaku pembunuhan tersebut. Namun, Ali bin Abi Thalib menilai bahwa tindakan itu tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa karena keadaan negara belum stabil.
Perselisihan semakin meruncing ketika Mu'awiyah menolak perintah Ali untuk mundur dari jabatan gubernur. Sebaliknya, ia mempersiapkan pasukan besar untuk menghadapi pasukan Ali bin Abi Thalib. Setelah berhasil menyelesaikan konflik di Basra, Ali memimpin pasukannya menuju Damaskus untuk menegakkan kekuasaan Islam.
Kedua pasukan akhirnya bertemu di wilayah bernama Shiffin, di dekat Sungai Efrat. Ali kembali mengutamakan perdamaian dan mengusulkan perundingan, tetapi upaya tersebut gagal, sehingga pecahlah Perang Shiffin yang sengit. Pasukan Ali hampir meraih kemenangan ketika Mu'awiyah berada di ambang kekalahan.
Pada saat genting itu, Amru bin Ash (penasihat Mu'awiyah) memberikan siasat dengan memerintahkan prajuritnya mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak sambil menyerukan perdamaian. Melihat itu, sebagian besar pasukan Ali mendesak agar perang dihentikan. Meskipun Ali menyadari itu hanyalah tipu daya, ia akhirnya menyetujui gencatan senjata demi menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.
Kedua belah pihak kemudian sepakat mengadakan tahkim (arbitrase) untuk mencari jalan damai. Ali menunjuk Abu Musa al-Asy'ari sebagai wakilnya, sedangkan Mu'awiyah menunjuk Amru bin Ash. Dalam kesepakatan awal, keduanya berjanji untuk sama-sama menurunkan pemimpin mereka agar umat Islam dapat memilih khalifah baru secara bersama. Abu Musa al-Asy'ari lebih dahulu mengumumkan pengunduran diri Ali bin Abi Thalib, namun setelah itu Amru bin Ash justru menyatakan bahwa Mu'awiyah adalah khalifah yang sah.
Tindakan curang itu membuat pihak Ali marah besar. Sebagian pasukan menuntut agar perang dilanjutkan, tetapi Ali menolak karena ia telah berjanji menerima hasil perundingan. Akibatnya, kelompok yang tidak setuju keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok sendiri yang dikenal sebagai Khawarij, yang berarti "orang-orang yang keluar."
3. Pemberontakan Kaum KhawarijKaum Khawarij kemudian menyatakan perang terhadap dua pihak sekaligus: kelompok Ali bin Abi Thalib dan kelompok Mu'awiyah bin Abu Sofyan. Mereka menyingkir ke sebuah desa dekat Kufah bernama Harurah, dan di sana membentuk pemerintahan sendiri. Mereka mengangkat Syaibah bin Rubi' at-Tamimi sebagai panglima perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan.
Dari Harurah, mereka menyusun kekuatan dan berencana membunuh keempat tokoh utama yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yaitu Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah bin Abu Sofyan, Amru bin Ash, dan Abu Musa al-Asy'ari.
Ali bin Abi Thalib berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia harus menghadapi kekuatan Mu'awiyah yang semakin besar, sementara di sisi lain, kelompok Khawarij juga mulai menimbulkan ancaman serius. Akhirnya, Ali memutuskan untuk menumpas Khawarij terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkah ke Damaskus.
Pada tahun 658 M, Ali memimpin pasukannya melawan kaum Khawarij di daerah Nahrawan. Pertempuran ini kemudian dikenal dengan nama Perang Nahrawan. Dalam pertempuran itu, pasukan Khawarij berhasil dikalahkan dan pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab, terbunuh.
Dengan demikian, meskipun Ali bin Abi Thalib berhasil memadamkan beberapa pemberontakan besar, masa pemerintahannya tetap diwarnai oleh konflik politik yang berkepanjangan. Namun, keteguhan, keberanian, dan komitmennya terhadap kebenaran menjadikan beliau sebagai salah satu sosok pemimpin paling agung dan berprinsip dalam sejarah Islam.
Silakan tonton video berikut untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian!
1. Perang Jamal
2. Perang Shiffin
3. Pemberontakan Kaum Khawarij
EVALUASI
Kerjakan soal di bawah ini!- Pemberontakan pertama pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib dipimpin oleh ________, ________, dan ________.
- Perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan pasukan Thalhah, Zubair, dan Aisyah dikenal dengan nama ________ atau ________.
- Gubernur Basra yang ditawan oleh pasukan pemberontak adalah ________.
- Setelah Perang Jamal berakhir, Ali bin Abi Thalib memusatkan perhatian untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh ________.
- Pertempuran antara pasukan Ali dan Mu'awiyah yang terjadi di tepi Sungai Efrat disebut ________.
- Peristiwa perundingan antara pihak Ali dan pihak Mu'awiyah setelah Perang Shiffin dikenal dengan istilah ________ atau ________.
- Wakil dari pihak Ali dalam perundingan tahkim adalah ________, sedangkan dari pihak Mu'awiyah adalah ________.
- Kelompok yang keluar dari barisan pasukan Ali setelah peristiwa tahkim disebut ________, yang artinya "orang-orang yang keluar."
- Perang antara Ali bin Abi Thalib melawan kaum Khawarij terjadi di daerah ________ pada tahun ________ M.
- Pemimpin kaum Khawarij dalam Perang Nahrawan yang akhirnya tewas adalah ________.
Selamat mengerjakan.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
SEMESTER GASAL
Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3 Pelajaran 4
SEMESTER GENAP
Pelajaran 5 Pelajaran 6 Pelajaran 7 Pelajaran 8