Mewujudkan Generasi Berkarakter Islami dan Unggul serta Madrasah Bersih, Sehat, dan Asri
(Berkilau & Berseri)
PERTEMUAN KE-33
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:- Menghargai keshalihan Ali bin Abi Thalib.
- Menjalankan sikap peduli kepada keluarga, teman, dan guru.
- Menganalisis kisah teladan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat dan khalifah.
- Mengidentifikasi keteladanan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat dan khalifah.
MATERI
Ali bin Abi Thalib tumbuh besar di bawah asuhan langsung Nabi Muhammad saw. Sejak muda, beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas, pemberani, dan berakhlak mulia. Ali merupakan orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan pemuda. Kedekatannya dengan Rasulullah saw. menjadikan dirinya banyak mewarisi ilmu, kebijaksanaan, serta keteladanan. Kecerdasan dan kepiawaian Ali bin Abi Thalib dalam berbagai bidang diakui oleh Nabi Muhammad saw., sehingga beliau sering menjadi tempat bertanya bagi para sahabat mengenai persoalan keagamaan. Selain berilmu tinggi, Ali juga dikenal sebagai ahli strategi perang yang tangguh dan pemberani di medan jihad.
Ketika berada di Madinah, Rasulullah saw. menikahkan Ali bin Abi Thalib dengan putri tercintanya, Fatimah az-Zahra. Pilihan itu menunjukkan betapa tinggi kepercayaan Nabi kepada akhlak, kecerdasan, dan kemuliaan Ali. Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam, yaitu Hasan dan Husain. Meskipun hidup dengan sederhana, Ali bin Abi Thalib dan keluarganya tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
A. Riwayat Hidup Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Mekah pada tahun 600 Masehi. Ia adalah putra dari Abu Thalib, paman Nabi Muhammad saw., yang dikenal sangat berjasa dalam melindungi Nabi pada masa awal dakwah Islam. Ibu Ali bernama Fatimah binti As'ad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Ketika lahir, ia diberi nama Haidarah, namun ayahnya menggantinya dengan nama Ali.
Sejak usia enam tahun, Ali diasuh oleh Nabi Muhammad saw., sehingga tumbuh dalam lingkungan penuh kasih dan bimbingan kenabian. Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertamanya, Ali baru berusia delapan tahun. Ia menjadi orang kedua yang memeluk Islam setelah Khadijah binti Khuwailid. Sejak saat itu, Ali senantiasa mendampingi Rasulullah saw. dalam setiap perjuangan dan meneladani akhlak beliau. Ia juga sering menyaksikan Nabi menerima wahyu, sehingga memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Islam dan rahasia ketuhanan.
Ketika Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di Mekah. Hal ini dilakukan agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi masih berada di rumahnya. Tindakan itu sangat berisiko karena nyawanya terancam, namun Ali melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Ia menjadi orang pertama yang rela mengorbankan diri demi keselamatan Rasulullah saw. Berkat keberaniannya, Nabi dan Abu Bakar berhasil meninggalkan Mekah dengan selamat. Setelah keadaan aman, Ali pun menyusul hijrah ke Madinah.
Pernikahan dan Kepribadian Ali bin Abi ThalibSesampainya di Madinah, Rasulullah saw. menikahkan Ali bin Abi Thalib dengan putrinya, Fatimah az-Zahra. Awalnya, Ali merasa ragu melamar Fatimah karena hidupnya yang sederhana. Namun, Nabi memberikan semangat dan membantu persiapan pernikahan mereka. Ali kemudian menjual baju besinya seharga 500 dirham yaitu sekitar 10 gram emas untuk dijadikan mahar. Saat menikah, Ali berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Fatimah berusia 15 tahun.
Kehidupan rumah tangga mereka berjalan penuh kesederhanaan dan kasih sayang. Ali dikenal sebagai suami yang bertanggung jawab, sabar, dan berakhlak mulia. Gaya hidup sederhananya tetap terjaga bahkan setelah ia menjadi khalifah. Nilai-nilai kesahajaan itu juga ia tanamkan kepada anak-anaknya.
Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai panglima perang yang gagah berani. Keberaniannya di medan jihad begitu terkenal hingga membuat musuh-musuhnya gentar. Rasulullah saw. pernah menghadiahkan kepadanya pedang legendaris bernama Zulfikar. Ali turut serta dalam hampir semua peperangan di masa Nabi dan selalu menjadi ujung tombak pasukan Muslim.
Selain pemberani, Ali juga terkenal karena kecerdasannya. Rasulullah saw. pernah bersabda, "Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." Ucapan ini menggambarkan betapa luasnya pengetahuan yang dimiliki Ali bin Abi Thalib. Pandangan dan fatwanya sering dijadikan rujukan oleh para sahabat dan khalifah sebelumnya. Ia juga kerap dipercaya sebagai qadi (hakim) dan mufti dalam berbagai persoalan keagamaan.
Ketika Nabi Muhammad saw. wafat, Ali dengan penuh kesetiaan mendampingi beliau hingga ke pemakaman. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk anggota Majelis Asy-Syura, dewan yang bertugas memilih khalifah berikutnya. Anggota dewan itu antara lain Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf. Hasil musyawarah akhirnya menetapkan Usman bin Affan sebagai khalifah.
Ali sempat menasihati Usman agar bersikap tegas terhadap kerabatnya yang menyalahgunakan jabatan. Namun, nasihat itu kurang diindahkan hingga timbul kekacauan yang berujung pada terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan.
B. Kebijakan Pemerintahan Ali bin Abi Thalib
Setelah wafatnya Usman bin Affan, kaum muslimin sepakat mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Pada awalnya, Ali menolak secara halus dan menyerahkan keputusan kepada para tokoh ahl asy-syura serta para pejuang Perang Badar. Namun, karena desakan dan dukungan umat yang begitu kuat, beliau akhirnya menerima amanah tersebut. Baiat dilakukan di Masjid Madinah pada tanggal 25 Zulhijah tahun 35 H oleh para sahabat besar seperti Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan disusul oleh kaum muslimin lainnya.
Setelah diangkat menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib mengambil sejumlah langkah penting untuk menata kembali pemerintahan Islam yang sempat goyah akibat krisis politik. Kebijakan-kebijakan yang beliau ambil antara lain:
- Mengganti para pejabat yang diangkat oleh Usman bin Affan dengan orang-orang yang dianggap lebih amanah.
- Menarik kembali tanah-tanah yang telah dibagikan oleh Usman kepada kerabatnya tanpa dasar yang jelas.
- Menyalurkan tunjangan bagi kaum muslimin dari Baitul Mal secara adil.
- Menertibkan urusan administrasi pemerintahan.
- Memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah untuk meredam gejolak politik dan menghadapi perlawanan Bani Umayyah.
Langkah-langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang tegas, adil, dan berorientasi pada keadilan sosial. Meskipun menghadapi banyak tantangan dan konflik internal, Ali tetap dikenal sebagai pemimpin yang berpegang teguh pada prinsip kebenaran dan keadilan hingga akhir hayatnya.
Silakan tonton video berikut untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian!
EVALUASI
Kerjakan soal di bawah ini!- Ali bin Abi Thalib merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan _______.
- Ayah Ali bin Abi Thalib bernama _______ yang merupakan paman Nabi Muhammad saw.
- Ibu Ali bin Abi Thalib bernama _______ binti As'ad bin Hasyim bin Abdu Manaf.
- Sewaktu lahir, Ali diberi nama _______ oleh ibunya sebelum diganti oleh ayahnya.
- Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri Nabi Muhammad saw. yang bernama _______.
- Pedang peninggalan Rasulullah saw. yang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib bernama _______.
- Dua putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra yang terkenal adalah _______ dan _______.
- Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai panglima perang yang _______ dan berilmu tinggi.
- Pusat pemerintahan pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib dipindahkan dari Madinah ke kota _______.
- Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah pada tanggal _______ tahun 35 Hijriah.
Selamat mengerjakan.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
SEMESTER GASAL
Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3 Pelajaran 4
SEMESTER GENAP
Pelajaran 5 Pelajaran 6 Pelajaran 7 Pelajaran 8