Mewujudkan Generasi Berkarakter Islami dan Unggul serta Madrasah Bersih, Sehat, dan Asri
(Berkilau & Berseri)
PERTEMUAN KE-9
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:- Menerima bahwa Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam.
- Menjalankan sikap kasih sayang terhadap alam sekitar.
- Memahami ciri-ciri kepribadian Nabi Muhammad saw.
- Mengorganisasi kemuliaan akhlak Nabi Muhammad saw. dan sahabat ketika berdakwah.
MATERI
C. Kepribadian Nabi Muhammad saw.
Sebagai rasul yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, Nabi Muhammad saw. memiliki kepribadian yang agung dan sempurna. Allah Swt. menegaskan hal ini dalam firman-Nya pada Surah al-Qalam ayat 4:
Artinya:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Q.S. al-Qalam [68]: 4).
Kepribadian mulia Nabi Muhammad saw. juga diakui oleh orang-orang terdekat beliau. Suatu ketika, Aisyah r.a. ditanya tentang akhlak Rasulullah saw., ia menjawab, "Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an." Jawaban ini menunjukkan bahwa seluruh sikap, ucapan, dan perbuatan Nabi Muhammad saw. selaras dengan ajaran Al-Qur'an. Beliau menjalankan segala perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya, serta menampilkan akhlak yang luhur dalam kehidupan sosial. Nabi Muhammad saw. dikenal memiliki kepedulian yang tinggi, kesabaran yang luar biasa, serta kasih sayang yang meliputi manusia, hewan, dan alam.
Berikut ini beberapa kepribadian mulia Nabi Muhammad saw. yang dapat kita teladani:
- Memperbaiki Perekonomian Masyarakat
- Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw. kepada Sesama
- Memuliakan Istri
- Kasih Sayang kepada Anak-anak
- Kasih Sayang kepada Pelayan
- Peduli kepada Tetangga
- Kasih Sayang kepada Orang Lemah
- Pemurah, Dermawan, dan Pemaaf
Pada awalnya, kehidupan masyarakat Quraisy tidak teratur dan dipenuhi oleh perilaku yang tidak terpuji. Kebiasaan buruk tersebut melemahkan perekonomian serta merusak tata sosial yang ada di tengah masyarakat. Situasi ini menimbulkan berbagai kesenjangan dan ketidakadilan sosial.
Sejak muda, Nabi Muhammad Saw. telah menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi tersebut. Pada usia 20 tahun, beliau memprakarsai sebuah perjanjian damai dalam urusan perdagangan yang dikenal dengan Hilf al-Fudul. Tujuan utama dari perjanjian ini adalah untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya agar tidak dirugikan dalam kegiatan perdagangan, serta membantu kaum fakir miskin demi meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat Makkah.
Setelah diangkat menjadi rasul, perhatian Nabi Muhammad Saw. terhadap masalah sosial dan perekonomian semakin besar. Beliau menyadari bahwa masyarakat hanya dapat hidup tenang dan khusyuk dalam beribadah apabila keadaan lingkungannya tertib, damai, aman, dan sejahtera. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw. mengajak masyarakat Quraisy untuk meninggalkan cara hidup, adat istiadat, serta kepercayaan Jahiliyyah, lalu menggantinya dengan ajaran agama Islam yang membawa nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan.
Dalam upaya memperbaiki tata sosial masyarakat Makkah, Nabi Muhammad Saw. tidak bekerja sendiri. Beliau dibantu oleh para sahabat yang senantiasa setia mendukung perjuangannya. Nabi dan para sahabat rela mengorbankan harta mereka demi membantu masyarakat miskin, meskipun harus menerima cemoohan, hinaan, bahkan siksaan dari kaum Quraisy yang memusuhi Islam. Semua itu dijalani oleh Rasulullah Saw. dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan.
Perjuangan Nabi Muhammad Saw. dalam memperbaiki kehidupan masyarakat semakin berkembang setelah beliau hijrah ke Madinah. Di sana, beliau mulai menerapkan sistem perekonomian Islam yang lebih teratur. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah membentuk Baitul Mal, yaitu sebuah lembaga yang berfungsi sebagai badan keuangan negara. Melalui Baitul Mal, pengelolaan harta umat dapat dilakukan secara adil dan bermanfaat bagi kepentingan bersama.
Selain itu, Nabi Muhammad Saw. juga menegaskan larangan terhadap praktik riba dalam jual beli, karena praktik tersebut merugikan dan menindas kaum lemah. Dengan diterapkannya prinsip-prinsip Islam dalam bidang perekonomian, kehidupan masyarakat Madinah menjadi lebih tenteram, nyaman, dan damai. Hal ini membuat umat Islam dapat beribadah dengan lebih khusyuk, sekaligus merasakan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad Saw. adalah teladan utama dalam menebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia, tanpa membedakan usia, status, maupun kondisi. Beliau senantiasa memperlakukan setiap orang dengan penuh kelembutan, keikhlasan, dan kebaikan hati. Berikut beberapa contoh nyata kasih sayang beliau kepada sesama.
Nabi Muhammad saw. adalah sosok suami yang penuh kasih sayang dan adil. Beliau selalu bekerja sama dengan istrinya dalam urusan rumah tangga dan tidak segan membantu pekerjaan sehari-hari. Suatu ketika, beliau pulang dan tidak menemukan makanan di rumah. Aisyah r.a. menjawab bahwa belum ada yang bisa dimakan. Mendengar itu, Nabi Muhammad saw. dengan tenang berkata, "Jika demikian, aku berpuasa hari ini." Hal ini menunjukkan kesederhanaan, pengertian, dan kelembutan beliau terhadap keluarganya.
Nabi Muhammad Saw. memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam kepada anak-anak. Beliau kerap bercanda, bersenda gurau, memangku, bahkan menggendong mereka. Suatu ketika, Rasulullah Saw. melihat adik Anas bin Malik (pelayan beliau) sedang menangis. Dengan penuh perhatian, Nabi bertanya kepada Anas tentang sebab kesedihan adiknya. Anas pun menjawab bahwa burung peliharaannya telah mati. Mendengar hal itu, Rasulullah segera menghampiri anak tersebut dan menenangkannya hingga kembali ceria. Peristiwa ini menunjukkan betapa lembutnya hati beliau terhadap anak-anak.
Selain kepada anak-anak, Nabi Muhammad Saw. juga menunjukkan akhlak mulia kepada pelayannya, Anas bin Malik. Anas yang masih muda telah melayani beliau selama kurang lebih sepuluh tahun, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Selama itu pula, Anas tidak pernah sekalipun dimarahi atau dibentak oleh Rasulullah Saw.
Suatu hari, Nabi menyuruh Anas untuk pergi ke pasar guna mengurus suatu keperluan. Namun, sesampainya di pasar, Anas justru tergoda untuk ikut bermain bersama anak-anak lain hingga lupa tugasnya. Rasulullah Saw. kemudian mendatanginya, meletakkan tangan di pundaknya, dan bertanya dengan lembut, "Hai Anas, apakah engkau telah mengerjakan apa yang aku perintahkan?" Anas menjawab, "Ya, aku akan pergi, wahai Rasulullah!" Nabi Muhammad Saw. tersenyum tanpa sedikit pun memarahinya. Sikap ini menunjukkan kelapangan dada dan kelembutan beliau terhadap orang yang berbuat khilaf.
Kepedulian Nabi Muhammad saw. juga tampak dalam sikapnya terhadap tetangga. Beliau selalu mengingatkan agar tidak ada satu tetangga pun yang terlewat ketika berbagi makanan, meskipun berbeda agama. Suatu ketika, Aisyah r.a. hampir tidak membagikan makanan kepada tetangga yang beragama Yahudi. Nabi Muhammad saw. segera menegur dan berkata, "Kirimilah! Walaupun ia Yahudi, ia tetap tetangga kita." Sikap ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. mengajarkan toleransi, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan.
Nabi Muhammad Saw. juga sangat mengasihi orang-orang yang lemah. Beliau selalu berpesan kepada sahabat-sahabatnya agar menjaga, melindungi, serta memperhatikan mereka.
Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang mengadu kepada Nabi tentang lamanya bacaan imam saat salat berjamaah. Karena bacaan yang panjang, ia hampir tidak bisa ikut salat bersama jamaah. Mendengar keluhan tersebut, Rasulullah Saw. kemudian bersabda di hadapan orang banyak: "Wahai manusia, janganlah kalian membuat orang lain lari dari salat. Barang siapa menjadi imam dalam salat berjamaah, hendaklah ia meringankan bacaannya, karena di antara makmum ada orang sakit, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan." Ucapan ini mencerminkan perhatian besar Nabi kepada umatnya, terutama kaum lemah.
Salah satu akhlak mulia Nabi Muhammad Saw. adalah sifat dermawan, pemurah, dan pemaaf. Beliau tidak pernah ragu untuk membantu orang yang membutuhkan.
Suatu hari, Nabi Saw. melihat Bilal bin Rabah menyimpan sekantung kurma untuk persediaan tamunya. Rasulullah Saw. pun menasihatinya: "Tidakkah engkau tahu, bahwa makanan yang engkau simpan itu kelak dapat menjadi sebab siksa di neraka? Sedekahkanlah, hai Bilal, dan jangan takut miskin, karena Allah pasti akan menggantinya." Hal ini menunjukkan betapa beliau selalu mendorong umatnya untuk bersedekah dan tidak takut kekurangan.
Dalam peristiwa lain, seorang Badui datang menghampiri Nabi Muhammad Saw. dan menarik kain yang melilit di leher beliau dengan kasar hingga membuat leher beliau memerah. Orang Badui itu menuntut agar Nabi memberikan sebagian harta yang ada padanya. Namun, bukannya marah, Rasulullah Saw. menghadapi perbuatan kasar tersebut dengan senyum penuh kesabaran. Beliau kemudian memberikan selendangnya kepada orang Badui itu. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, orang Badui tersebut merasa bahagia dan mengucapkan syukur serta terima kasih.
Selain itu, Abdullah (sahabat Nabi) pernah menyaksikan Rasulullah Saw. duduk bersama orang-orang miskin di masjid. Beliau menyampaikan bahwa orang yang menolong dan menyenangkan hati fakir miskin akan mendapat ganjaran surga. Ucapan tersebut membuat orang-orang miskin merasa gembira, meskipun Abdullah sendiri merasa sedih karena tidak termasuk dalam golongan mereka.
Anas bin Malik juga pernah menyaksikan ketika ada seorang laki-laki datang meminta bantuan kepada Rasulullah Saw. Nabi pun memberikan seekor kambing miliknya. Laki-laki itu kemudian pulang dan berkata kepada kaumnya: "Ikutilah Islam, karena Muhammad memberi dengan begitu banyak, seakan-akan beliau tidak pernah takut kelaparan."
Begitu banyak akhlak mulia yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau penuh kasih sayang, dermawan, pemaaf, lembut tutur katanya, serta menghargai setiap orang. Kasih sayang beliau mampu membahagiakan siapa pun yang menerimanya, sementara kelembutan budi pekertinya membuat beliau dikasihi dan disegani oleh setiap orang yang bertemu dengannya. Dengan demikian, Rasulullah Saw. adalah teladan sempurna bagi seluruh umat manusia sepanjang masa.
Silakan tonton video berikut untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian!
EVALUASI
Kerjakan soal di bawah ini!- Pada usia ______ tahun, Nabi Muhammad Saw. memprakarsai perjanjian dagang yang disebut Hilf al-Fudhul.
- Tujuan utama Hilf al-Fudhul adalah untuk menolong orang yang ______ dan teraniaya dalam perdagangan.
- Setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad Saw. membentuk lembaga keuangan negara yang disebut ______.
- Dalam Islam, praktik jual beli yang dilarang karena merugikan orang lain adalah ______.
- Nabi Muhammad Saw. mengajak masyarakat Quraisy meninggalkan cara hidup dan kepercayaan ______.
- Nabi Muhammad Saw. menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, salah satunya ketika menenangkan adik ______ yang menangis karena burung peliharaannya mati.
- Nabi Muhammad Saw. tidak pernah memarahi pelayannya yang bernama ______ meskipun ia pernah lalai menjalankan tugas.
- Rasulullah Saw. menasihati para imam agar meringankan bacaan salat berjamaah karena di antara makmum ada orang ______, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan.
- Nabi Muhammad Saw. menasihati Bilal bin Rabah agar tidak menyimpan makanan, melainkan bersedekah, karena Allah pasti akan memberi ______.
- Seorang Badui pernah menarik kain di leher Nabi dengan kasar, tetapi beliau tetap membalasnya dengan penuh ______ dan kesabaran.
Selamat mengerjakan.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
SEMESTER GASAL
Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3
SEMESTER GENAP
Pelajaran 4 Pelajaran 5 Pelajaran 6 Pelajaran 7