Mewujudkan Generasi Berkarakter Islami dan Unggul serta Madrasah Bersih, Sehat, dan Asri
(Berkilau & Berseri)
PERTEMUAN KE-5
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:- Menghargai makna positif dari mata pencaharian masyarakat Arab Pra-Islam.
- Menjalankan sikap kerja keras menjalankan aktivitas sehari-hari.
- Memahami mata pencaharian masyarakat Arab Pra-Islam.
- Mengorganisasi informasi tentang mata pencaharian masyarakat Arab Pra-Islam.
MATERI
Masyarakat Arab sebelum datangnya Islam telah memiliki keahlian dalam bidang perekonomian. Secara umum mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu kaum Badui (pedalaman) dan kaum Hadhari (perkotaan). Kaum Badui hidup secara nomaden dengan berpindah-pindah untuk mencari padang rumput dan sumber air bagi ternak mereka. Sementara itu, kaum Hadhari hidup menetap di perkotaan dengan kegiatan utama berdagang dan bertani. Dari kedua kelompok ini lahirlah pola kehidupan ekonomi yang menjadi penopang masyarakat Arab pra-Islam, yaitu perdagangan, pertanian, dan peternakan.
A. Mata Pencaharian Masyarakat Arab Sebelum Islam
1. PerdaganganPerdagangan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Arab, terutama di kalangan penduduk perkotaan. Pedagang menempati posisi penting dalam masyarakat karena keberanian mereka menempuh perjalanan panjang melintasi padang pasir dan lautan. Mereka membeli hasil bumi dari petani dan ternak dari para penggembala, kemudian menjualnya ke daerah lain bahkan ke luar negeri.
Pusat perdagangan terbesar berada di Makkah, yang dikenal sebagai kota transit penting bagi kafilah dagang. Selain itu, Yaman juga terkenal dengan perdagangan lautnya. Pedagang Arab berdagang hingga ke negeri-negeri jauh seperti Syam, Mesir, Habasyah, Sudan, Somalia, India, bahkan ke kepulauan Nusantara, seperti Sumatra dan Jawa. Untuk perjalanan jauh, mereka menggunakan unta yang dapat bertahan hidup hingga 17 hari tanpa minum sehingga dijuluki "kapal padang pasir". Perdagangan yang maju ini menjadikan masyarakat Arab memiliki jaringan ekonomi luas dan membuka hubungan internasional.
2. PertanianMeski sebagian besar wilayah Arab berupa padang pasir yang panas, gersang, dan tandus, terdapat daerah-daerah subur yang memungkinkan masyarakat bercocok tanam. Daerah subur biasanya terletak di lembah yang memiliki mata air (oase) atau di wilayah yang sering turun hujan.
Salah satu pusat pertanian utama adalah Taif, daerah dataran tinggi berhawa sejuk yang menjadi penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan. Hasil pertanian dari Taif biasanya diperdagangkan ke Makkah dan Madinah. Selain itu, Yaman terkenal sebagai penghasil gandum dan kopi dengan sistem tadah hujan. Di wilayah Oman, masyarakat menanam padi dan jagung, sedangkan di Hadramaut dan Mahra berkembang tanaman palawija.
Masyarakat Arab pada masa itu telah mengenal alat pertanian semi modern seperti bajak, cangkul, dan garu. Mereka juga menggunakan tenaga hewan ternak untuk membajak, menerapkan sistem irigasi sederhana, serta mampu membuat pupuk alami. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terbatas kondisi alamnya, masyarakat Arab tetap kreatif dalam mengolah lahan pertanian.
Tanaman yang paling penting dan menjadi primadona adalah kurma. Buahnya dimakan langsung atau dijual, bijinya dijadikan makanan unta, sarinya dicampur susu menjadi minuman khas suku Badui, batangnya digunakan sebagai kayu bakar, daunnya dijadikan atap rumah, dan serabutnya dipakai sebagai tali tambang. Dengan banyaknya kegunaan tersebut, kurma menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Arab pra-Islam.
3. PeternakanPeternakan menjadi pekerjaan utama masyarakat Arab, khususnya suku Badui. Mereka hidup berpindah-pindah (nomaden) untuk mencari padang rumput dan sumber air sebagai makanan bagi hewan ternak. Hewan ternak yang paling banyak dipelihara adalah unta, kambing, dan domba. Dari hewan-hewan tersebut mereka memperoleh susu, daging, kulit, dan bulu domba yang diolah menjadi pakaian, kemah, sepatu, serta peralatan rumah tangga.
Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, ternak juga dijual untuk memperoleh penghasilan. Tingkat kekayaan seseorang dari kalangan suku Badui sering diukur dari banyaknya ternak yang dimiliki. Semakin banyak ternak, semakin tinggi pula kedudukan sosialnya.
Tidak hanya masyarakat pedalaman, sebagian masyarakat perkotaan juga menjadikan beternak sebagai mata pencaharian. Ada yang menggembala ternaknya sendiri, ada pula yang bekerja menggembalakan ternak orang lain. Bahkan Nabi Muhammad saw., Umar bin Khattab, dan Ibnu Mas'ud pernah bekerja sebagai penggembala kambing ketika masih muda. Hal ini menunjukkan bahwa beternak bukan hanya mata pencaharian, melainkan juga sarana pendidikan kemandirian dan tanggung jawab sejak dini.
Silakan tonton video berikut untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian!
EVALUASI
Kerjakan soal di bawah ini!- Masyarakat Arab sebelum Islam terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kaum ________ dan kaum ________.
- Kaum Badui hidup berpindah-pindah atau disebut juga hidup ________.
- Kekayaan suku Badui dapat diukur dari banyaknya ________ yang mereka miliki.
- Kaum Hadhari biasanya tinggal di ________ dan bekerja sebagai pedagang atau ________.
- Pusat perniagaan masyarakat Arab pada masa itu adalah kota ________.
- Warga Yaman biasa berdagang hingga ke daerah pesisir ________, bahkan sampai ke Hindia dan pulau Jawa.
- Daerah subur di jazirah Arab yang menjadi penghasil utama kebutuhan pangan adalah ________.
- Binatang ternak yang biasa dipelihara masyarakat Arab adalah unta, ________, dan ________.
- Hasil bumi dari para petani biasanya dijual oleh para pedagang ke luar ________.
- Tempat subur di padang pasir yang terdapat sumber air disebut ________.
Selamat mengerjakan.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
SEMESTER GASAL
Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3 Pelajaran 4 Pelajaran 5
SEMESTER GENAP
Pelajaran 6 Pelajaran 7 Pelajaran 8