Mewujudkan Generasi Berkarakter Islami dan Unggul serta Madrasah Bersih, Sehat, dan Asri
(Berkilau & Berseri)
PERTEMUAN KE-16
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:- Menerima irhas Nabi Muhammad saw. pada masa remaja.
- Menjalankan sikap santun terhadap keluarga, teman, guru, dan tetangga.
- Memahami masa remaja Nabi Muhammad saw.
- Mengorganisasi informasi tentang masa remaja Nabi Muhammad saw.
MATERI
B. Nabi Muhammad saw. Bertemu dengan Pendeta Buhaira
Pada usia 12 tahun, untuk pertama kalinya Nabi Muhammad saw. ikut serta dalam perjalanan dagang ke negeri Syam bersama pamannya, Abu Talib. Awalnya, Abu Talib merasa ragu dan tidak mengizinkan keponakannya ikut serta, karena perjalanan tersebut sangat jauh dan penuh risiko. Namun, karena keinginan Muhammad begitu kuat, akhirnya sang paman mengizinkannya ikut bergabung dengan rombongan kafilah dagang.
Setiap musim panas, masyarakat Makkah memang terbiasa melakukan perjalanan dagang menuju Syam. Perjalanan itu sangat berat karena mereka harus menempuh padang pasir yang luas dengan terik matahari yang menyengat. Akan tetapi, dalam perjalanan kali ini terjadi sebuah keajaiban. Nabi Muhammad saw. sama sekali tidak merasakan panas terik matahari, karena selalu ada segumpal awan yang bergerak menaungi beliau. Ketika rombongan berhenti, awan itu ikut berhenti; ketika rombongan berjalan, awan itu pun ikut berjalan menaungi Muhammad.
Fenomena ini menarik perhatian seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira. Ia adalah seorang ahli kitab yang sangat memahami isi Taurat dan Injil, serta mengetahui tanda-tanda akan datangnya nabi terakhir. Dari kejauhan, Buhaira memperhatikan kafilah tersebut. Hatinya bergetar ketika melihat seorang anak muda yang menunggangi unta dengan awan yang selalu menaunginya. Ia berpikir dalam hati, "Apakah inikah roh kebenaran yang dijanjikan itu?"
Buhaira kemudian bergegas menyongsong rombongan kafilah dan mengundang mereka untuk singgah makan bersama. Dalam pertemuan itu, ia sempat berbincang langsung dengan Abu Talib dan juga dengan Muhammad sendiri. Dari pembicaraan tersebut, keyakinan Buhaira semakin kuat bahwa anak itu bukanlah anak biasa, melainkan nabi terakhir yang telah disebutkan dalam kitab-kitab suci sebelumnya.
Karena keyakinannya itu, Buhaira pun memberi pesan khusus kepada Abu Talib agar menjaga keponakannya baik-baik. Ia memperingatkan bahwa jika orang-orang Yahudi mengetahui tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, mereka mungkin akan berusaha mencelakakannya, sebagaimana mereka pernah berusaha membunuh nabi-nabi terdahulu.
Mendengar nasihat tersebut, Abu Talib merasa khawatir akan keselamatan Muhammad. Ia segera memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dan membawa kembali kafilah dagang itu pulang ke Makkah. Alhamdulillah, mereka kembali dengan selamat. Sejak saat itu, Abu Talib merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melindungi Muhammad dari segala ancaman.
Silakan tonton video berikut untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian!
EVALUASI
Kerjakan soal di bawah ini!- Usia Nabi Muhammad saw. ketika pertama kali pergi berdagang ke negeri Syam adalah __________.
- Paman Nabi Muhammad saw. yang mengajaknya berdagang ke negeri Syam bernama __________.
- Setiap musim panas, masyarakat Makkah melakukan perjalanan dagang ke __________.
- Dalam perjalanan ke Syam, Nabi Muhammad saw. dinaungi oleh __________.
- Nama pendeta Nasrani yang bertemu dengan Nabi Muhammad saw. di negeri Syam adalah __________.
- Pendeta Buhaira menguasai isi dua kitab suci, yaitu __________ dan __________.
- Ketika melihat Nabi Muhammad saw., hati Buhaira bergetar karena ia mengenali __________.
- Apa nasihat Buhaira kepada Abu Talib terkait keselamatan Nabi Muhammad saw.__________.
- Golongan yang dikatakan pernah berusaha membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka adalah kaum __________.
- Setelah mendengar nasihat Buhaira, Abu Talib segera __________ bersama kafilahnya.
Selamat mengerjakan.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
SEMESTER GASAL
Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3 Pelajaran 4 Pelajaran 5
SEMESTER GENAP
Pelajaran 6 Pelajaran 7 Pelajaran 8